Selasa, 03 Mei 2011

97. JEMPUT AKU DI PELABUHAN SOEKARNO - HATTA

Oleh : Hasbullah Said.-


DIATAS, rembulan mengambang. Kebisuan malam masih meringis dibelai angin laut lepas. Sementara KM. LAMBELU masih saja terus melaju tak henti-hentinya membelah laut biru. Terdengar hanyalah nyanyian mesin kapal meriuhi kebekuan malam.
Masih aku berdiri disitu, diatas kridor dek 3 berpegang diteralis pengaman kapal. Pandanganku luruh menatap hamparan gelombang laut berkejaran berlarian dari arah haluan menuju buritan kendati malam telah hampir jauh larut.
Angin buritan begitu dingin menggeligis membelai tubuhku dibalik jaket yang kukenakan. Begitu derasnya angin menjerat tubuhku membuat aku menggigil kedinginan. Kurapatkan jaket yang membalut tubuhku mencari kehangatan namun gagal, karena kondisinya memang demikian cuaca begitu sangat dingin disebuah laut lepas.
Masih terbayang olehku, ketika sore tadi di pelabuhan Akhmad Yani Ternate, lambaian tangan perpisahan dari beberapa teman dekat sekolahku yang mengantarku pergi sangat memilukan hati. Mereka terisak sambil memelukku erat seolah sangat berat hati untuk melepasku pergi. Selamat jalan,…….semoga sukses.Teriak mereka sambil melambaikan tangan perpisahan terakhir padaku.
Akupun membalas lambain mereka dengan sesunggukan tak tahan rasa iba. Aku pergi menuju kota Makassar hanya untuk mengadu nasib mencoba mendaftarkan diri untuk ikut seleksi ujian masuk kesalah satu Perguruan Tinggi Negeri disana. Sedangkan teman-temanku lainnya belum punya kesempatan karena alasan ketiadaan biaya.
Sementara kapal terus melaju membelah laut. Masih aku berdiri disini. Sepertinya ada kebimbangan galau dihati memikirkan setelah aku tiba di Makassar. Kota besar yang untuk pertama kalinya aku datangi. Tentunya segalanya masih asing bagiku.
Tak satupun sanak keluargaku yang ada disana dapat kumintai pertolongan. Kecuali hanya seorang yang kuharapkan dapat membantuku. Penulis cerpen yang kukenal dekat denganku sejak lama, bernama Diash Asmara Dhara. Aku salah seorang diantara sekian banyak fansnya sering berhubungan dengannya lewat HP-ku. Semoga saja dia dapat menolongku. Segera kukirim SMS padanya.
Aku sementara dalam perjalanan menuju Makassar, dengan menumpang KM. Lambelu. Tolong jemput aku di pelabuhan Soekarno-Hatta. Terima kasih.
Masih aku dalam kebingungan. Bagaimana nantinya kalau sendainya Diash tidak datang menjemputku. Apakah disetiap sudut jalan aku akan bertanya. Dimanakah tempat pendaftaran ujian masuk ke Perguruan Tinggi Negeri? Tentu mereka mengatakan aku orang baru datang ke Makassar. Ah, aku malu. Gumamku sambil menguap karena merasa ngantuk dan kecapaian. Lalu, kalau Diash datang menjemputku, bagaimana pula nantinya karena kami belum pernah bertemu muka jauh sebelumnya. Sebuah teka-teki yang mendebarkan. Seperti apa perasaan kami ketika bertemu nanti.
KM. LAMBELU masih saja terus melaju, membelah ombak gemulung menyisakan busa putih keperakan tertimpa cahaya rembulan malam. Dan tak lama, dari kejauhan nampak olehku samar-samar sebuah pulau kecil seolah menghadang perjalanan kapal yang sedang melaju. Akhirnya aku yakin, Makassar tentu tak jauh lagi dari sini. Karena Makassar dikelilingi oleh beberapa buah pulau kecil. Dari balik jaket yang kukenakan tiba-tiba terdengar bunyi HP-ku berdering bising.
“Halo, selamat malam Metha.“
“Selamat malam kak Diash.” balasku setelah usai kuucap halo.
“Aku telah terima SMS-mu.”
“Kamu sudah dimana?” ujarnya lagi bertanya.
“Mana aku tahu, aku masih dalam perjalanan, tapi didepan kami sudah nampak jelas sebuah pulau kecil. Aku tak tahu apa nama pulau itu.”
“Berarti sudah dekat, itu pulau Samalona namanya.“ katanya mem-beritahukanku.
“Baik, terima kasih kak Diash.” kataku girang.
“Eh, Metha, bagaimana aku bisa mengenalimu bila kau telah tiba, karena untuk pertama kalinya kita akan bertemu?” tanyanya ragu.
“Oh, itu sangat mudah.” balasku menyakinkan dia.
“Mudah bagaimana?” desaknya sekali lagi bertanya.
“Aku pakai jaket warna merah, celana panjang warna putih sebuah zaal warna kuning melilit dileherku.”
“Itu sengaja kulakukan agar engkau cepat mengenaliku.” lanjutku sekali lagi untuk meyakinkannya.
“Aku sepertinya menjemput rombongan Kirab Sang Merah Putih dari Ternate yang akan diarak keliling kota Makassar, sebagai wujud rasa syukurku bertemu denganmu.” balasnya bercanda.
“Benar, karena kita masih dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, (NKRI) memiliki Bendera Merah putih, walau dipisahkan oleh lautan yang sangat luas.” akupun bercanda.
“Ya sudalah, sebentar lagi kita sambung.”
“Selamat malam.” ujarnya mengakhiri pembicarannya kemudian mematikan HP-nya.
Tak lama kemudian, seruling kapal meraung-raung membelah jagat raya isyarat kapal sudah hendak sandar didermaga Soekarno-Hatta. Aku bergegas hendak turun dari atas kapal setelah berhenti dengan sempurna. Dari atas anjungan kulihat seorang lelaki sedang melambaikan tangan padaku. Kutahu jelas itu adalah Diash, lelaki yang menjemputku setia menunggu aku sejak pagi-pagi buta.
Kuulurkan tanganku menyalami dia, lalu kusebut namaku setelah tiba dipelataran dermaga.
“Metha, Methasari Hapsarini.” kataku.
“Diash Asmara Dhara, selamat datang!” balasnya senyum menyalamiku kemudian memelukku erat layaknya kakak-beradik yang saling merindukan karena sudah lama pisah baru bertemu kembali.
Matahari pagi bersinar temaram menyinari bumi Makassar, dan sementara taksi yang kami tumpangi berjalan dengan cepatnya diatas aspal mulus menuju arah selatan kota. Aku tak tahu jalan apa namanya. Aku diam saja mengamati keramaian kota Makassar, yang dipadati begitu banyak kendaraan bermotor lalu-lalang. Seperti rusa masuk kampung.
“Sudah berapa kali adik Metha ke Makassar sini.” tanya Diash mulai bicara padaku.
“Baru pertama kalinya.” jawabku malu.
“Adik Metha mendaftarnya dimana.” sejenak aku diam, lalu menghela nafas panjang kemudian aku jawab.
“Univ.Negeri Makassar.”
“Pilih jurusan apa?” tanyanya lagi.
“Fakultas Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Seni.” jawabku dengan wajah sumringah.
“Aku setuju, Oemar Bakri Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Perempuan sangat pas jadi tenaga pendidik atau pengajar, itu suatu pilihan yang sangat tepat untukmu karena kamu seorang perempuan berpenampilan menarik lagi berhati lembut.” katanya memuji aku.
“Terima kasih kak.” ucapku tersipu malu sambil melempar senyum padanya.
“Lalu motivasmu apa? Jangan-jangan ingin jadi dosen atau guru hanya karena sertifikasi guru menjanjikan gaji yang sangat menggiurkan.” Diash bergurau sambil membalas senyum menatapku.
“Kamu keliru menilai aku, tidak ada pikiranku demikian, hanya karena panggilan moral sebagai anak bangsa yang punya kepekaan nurani, punya kewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa.”
“Dan menurutku, seorang tenaga pendidik atau pengajar adalah sebuah profesi yang sangat mulia dibanding dengan profesi lainnya.” begitu kataku menjelaskan padanya.
“Aku merasa sangat senang atas pilihanmu, semoga kamu berhasil lulus.”
“Terima kasih banyak sekali lagi kak.”
Taksi berhenti setelah tiba tepat didepan rumah kos Diash. Sudah sampai, berhenti didepan situ, begitu ujarnya pada sopir taksi.
Kami bergegas turun dari atas taksi, kemudian berjalan masuk kepondokan tempat indikos Diash.
“Inilah pondokan tempat kosku, Jln. Anta Berantah No.B.29 seperti apa yang aku ceritakan padamu dalam cerpenku yang pernah aku kirimkan padamu.”
“Kamu masih ingat kan?” katanya mengingatkanku setelah aku duduk diruang tamu rumah kosnya. Aku mengangguk senyum membenarkan katanya.
Sesudahnya aku disuruh istirahat sebentar, kemudian dia akan mengantarku mencari pondokan yang tidak terlalu jauh dari kampus agar tidak mengeluarkan banyak biaya transportasi pulang pergi kuliah.
Sepeda motor Supra-Fit-nya dilarikan diatas aspal menuju rumah pondokan yang dijanjikan padaku sangat aman khusus bagi mahasiswi. Sementara aku duduk diboncengannya berpegang erat setengah lingkar dipinggangnya.
“Aku sangat bahagia dik, kau datang kesini.” katanya sambil memperlambat sedikit laju sepeda motornya.
“Akupun demikian kak, tidaklah lagi jadi sebuah teka-teki bagi kita berdua selama ini. Kini sudah jadi kenyataan, karena kita telah bertemu.” balasku dengan mendekatkan mulutku ketelinganya agar terdengar jelas dipendengarannya karena tertutupi oleh helm pengaman..
“Semoga hubungan cinta kita kekal abadi buat selamanya hingga studimu selesai.” katanya sambil menghentikan sepeda motornya karena sudah tiba dipondokan yang dia maksud. Kami berjalan masuk bersamanya menemui ibu kos yang sedang membersihkan sebuah kamar yang sedang kosong.
“Besok pagi aku akan jemput kamu untuk mendaftar di UNM sebagai peserta ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).” katanya sambil beranjak pamit padaku kemudian ia melarikan sepeda motornya menghilang lenyap ditikungan jalan menuju rumah kosnya.
Terima kasih banyak sayangku, atas segala perhatianmu padaku. Begitu desisku sambil kuberlari masuk kekamar kosku untuk rehat.(*)

Harian Radar Bulukumba, 15 April 2009
Mingguan Inti Berita, 04 Juli 2010 Makassar, 01 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar