Selasa, 03 Mei 2011

86. MENYINGKAP TIRAI BIRU DI TEPI PANTAI MERPATI

Oleh : Hasbullah Said.-


DISUATU senja. Di dermaga tua itu. Angin pantai Merpati Bulukumba berhembus lembut dari arah selat Selayar. Ketika perlahan-lahan pengunjungnya berdatangan hampir dari semua arah.
Nyaris tak ada lagi tempat lowong, diseputar dermaga yang daya pikat panoramanya sangat kuat, karena indah mempesona lagi eksotis. Dijejali sekian banyak remaja yang duduk berpasang-pasangan diatas tanggul dermaga.
Lagi-lagi cowok itu berdiri disini, sembari kaki kanannya bertumpuh diatas tanggul dermaga. Sedang kaki kirinya berada dibawah. Berdiri mematung, posisinya sama seperti dihari kemarin. Cowok jangkung dan sedikit rambutnya gondrong awut-awutan bergoyang tertiup angin pantai.
Tatapannyapun kosong tak lepas memandangi riak-riak gelombang air laut seolah berlomba hendak menggapai kaki dermaga. Dari raut wajahnya, sudah dapat ditebak bahwa cowok itu dihatinya menyimpan sejuta lara.
Lukisan alam pantai Merpati kala sang surya hendak tenggelam diatas lekukan teluk itu bercerita. Ia seolah bertutur tentang rahasia kekuatan cinta kasih ditengah ganasnya nuansa alam.
Mungkin tentang asmara yang gagal ia sembunyikan oleh kekejaman dunia. Dan keindahan alam pantai Merpati mampu membetahkan dirinya untuk berlama-lama disini. Sama hari-hari sebelumnya. Seperti kemarin. Juga kemarin dulu. Dan ini haripun ia datang menyambangi pantai Merpati. Seolah terus menyemangatinya untuk melupakan segala lara dihatinya.
Cowok yang berkulit sawo matang itu sepertinya penuh misteri. Bagai tabir yang sulit terungkap menyelimuti pribadinya. Kuamati lelaki itu setiap kemunculannya dipantai ini, terlihat dengan sangat super aneh. Sengaja aku duduk didekatnya hanya untuk menyingkap tabir yang menyelimuti dirinya. Dalam diam, ia terlihat sangat puas dan terobati hatinya akan pesona lukisan alam pantai Merpati.
Seolah sedang mencari sesuatu yang hilang dibalik laut selat Selayar yang membentang panjang itu.
Sedang aku, apa yang tengah kucari ditempat ini, aku sendiri tidak tahu. Awalnya aku tak begitu peduli dengan cowok yang ada didekatku. Akan tetapi dengan tingkah yang sedikit aneh menurut penilaianku, tidak seperti biasanya dengan pengunjung lainnya. Itulah yang membuatku penasaran.
Rasa simpatiku muncul tiba-tiba tak dapat kucegah ingin menyingkap sosok pribadinya yang misteri. Tapi aku tak tahu, cara apa yang terbaik kulakukan untuk memulai menyapanya. Lagi pula aku takut dia tersingung melihat kehadiranku.
Akan tetapi pada moment berikutnya, ternyata kehadiran si rambut gondrong berkulit sawo matang itu jauh lebih banyak menyita rasa penasaranku.
Dibanding dengan suasana disekelilingku seperti lagu rock yang terdengar hingar-bingar dibalik kios penjual makanan yang berderet santun disepanjang bahu jalan pantai Merpati.
. Para pengunjung remaja tak kalah asyiknya dengan pasangannya masing-masing dibelai desah nafas birahi ditengah sejuknya hembusan angin pantai Merpati.
Daerah ini, yaitu kota Bulukumba memang terkenal nuansa adat-istiadatnya yang santun dengan logat bahasa Bugisnya yang kental, serta sangat terkenal sebagai daerah pengrajin perahu phinisi sehingga daerah ini berjuluk Bumi Panrita Lopi.
Dan kini imajinasiku sedang bertualang tenggelam dalam hayalku sendiri tak menentu perginya. Akhirnya rasa ingin kenalku pada lelaki itu tiba-tiba datang tak terbendung lagi olehku. Kuberanikan diri untuk menyapanya.
“Sendirian.....?” tanyaku.
“Oh, ya,” sahutnya terbata-bata. Agak kaget. Dia berupaya menyembunyikan rasa kagetnya padaku.
“Boleh nggak, aku duduk disini?” tanyaku lagi basa-basi, sembari duduk didekatnya.
“Lho, dermaga ini kan bukan aku yang punya, tapi milik kita bersama jadi aku kira siapa saja boleh duduk disini.” sahutnya dengan menebar senyum tulus.
“Ini karena aku duduk terlalu dekat denganmu, maka aku minta permisi.” kataku lagi bersilat lidah.
“Silahkan, tidak apa-apa, malah lebih bagus.” balasnya ramah, sambil ber-geser memberiku ruang duduk di sampingnya.
“Kenalkan,......................Nur Naela.” kusebut namaku sambil kuulurkan tanganku menyalaminya.
Ketika kusebut namaku, kulihat ia terperanjat kaget. Namun tak lama. Hanya sebentar. Mungkin tak lebih dari sedetik. Kerut wajahnya, jelas telah terbaca olehku, bahwa cowok yang aku temani duduk sedang menyimpan suatu rahasia pribadi yang terpendam.
“Dinar, Dinar Zulkifli.” begitu dia menyebut namanya sambil menggengam tanganku. Ia tersenyum tipis. Dan sorot matanya seketika berbinar terang. Tidak sepertinya diawal mula dia datang kesini. Matanya kuyu dan kelam. Namun tak kupungkiri, hatiku tiba-tiba merekah. Ada rasa keteduhan tiba-tiba bergelayut dihatiku atas sambutan perkenalanku. Seteduh hatiku dikala senja seusai gerimis.
Seperti air laut disini, sesudah pasang, surut kembali. Begitu pula hidup ini punya pasang surut. Bagai roda pedati berputar sesudah keatas kebawah lagi. Begitu silih berganti. Itulah kehidupan yang hakiki.
Aku akan menawarkan seutas tali persahabatan dengannya. Kehadirannya merupakan suatu kejutan indah dalam hari-hariku. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu kembali besok malam ditempat ini, karena malam telah bergulir perlahan menuju titik bekunya.
Keesokannya, pukul 17.30 sore.
Aku lebih duluan tiba ditempat ini, sebelum dia Dinar tiba. Namun tak lama kemudian diapun datang menyusulku dengan ayunan langkah gontai menuju arahku.
“Selamat sore, Naela.” sapanya memberi salam sangat santun.
“Selamat sore.” balasku.
“Sudah lama?” tanyanya setelah ia duduk didekatku.
“Barusan.”
Sekilas ia melempar pandangan jauh ketengah laut. Dilihatnya sepasang burung camar terbang tinggi, lalu menukik kebawah dengan gaya akrobatik sangat lincah menyabar-nyambar diatas permukan laut, sepertinya hendak menggapai air laut. Dinar sepertinya tenggelam dalam hayalnya sendiri.
Belaian angin laut yang sejuk dan basah rupanya telah membuatnya melamun berlama-lamaan. Aku sendiri tak ahu apa yang sedang dilamunkan.
“Dinar, mengapa laut itu menyedot banyak perhatianmu?” tanyaku sangat hati-hati agar dia tidak tersinggung.
Sekilas kutangkap bayangan sendu yang tergores diwajahnya.
“Dilaut ini,........ telah menyimpan kenangan buram bagiku.”
“Kekasihmu, kan?” tanyaku memancing.
Dia jujur. Anggukan kepalanya terlihat begitu sangat berat.
“Gadis yang sangat aku sayangi........ Namanya Nur Laela Makgingsing. Ada kemirifan namamu. Orang pertama kali yang memberiku arti cinta yang sejati.”
“Lalu, dimana dia sekarang?” tanyaku penasaran memotong pembicaraannya.
“Dia,..........” Dinar berhenti sejenak, dia ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. Terdengar sebuah helaan nafas berat mengalir dari dalam hidungnya. Awalnya dia enggan bercerita padaku tentang kekasihnya. Tapi aku mohon untuk melanjutkannya.
Matanya menerawang jauh. Seolah ia ingin mengoyak-ngoyak tirai masa lalunya. Dahinya berkerinyit mengumpulkan segala kenangan masa lalunya. Dan akhirnya iapun mulai bercerita.
“Entah, aku tak tahu dimana sekarang jasadnya berada. Ia karam didasar laut selat Selayar disini, disaat ia balik ke Selayar ketika liburan semester akhir tahun lalu. Ia pulang ke kampung halamannya dengan menumpang kapal kayu milik pamannya. Sementara dalam perjalanan ditengah malam buta, tiba-tiba datang badai topan disertai hujan lebat menghempas kapal kayu yang ditumpanginya, hingga karam hancur berkeping-keping. Disaat musibah datang ia tengah terlelap tidur dan terkurung didalam sebuah kamar nahkoda kapal, sehingga ia tak dapat menye- lamatkan dirinya.
Sudah setahun berlalu,........ Hingga kini aku tak tahu dimana lagi rimbanya. Entah, ia masih hidup atau telah tiada,..............Begitu ia mengakhiri ceritanya sambil
menghela nafas dalam-dalam.
Sejurus, kebisuan malam hening mencekam menguasai diri kami masing-nasing. Telingaku tiba-tiba menangkap sebuah isakan halus. Tangis yang tak pernah aku temukan seperti ini. Ternyata sosok lelaki yang kuat dan tegarpun dapat mengalami kerapuhan. Aku ikut terbawa arus emosi hatinya yang bagai tersayat sembilu.
Keheningan yang semakin menyiksa mewarnai suasana diantara kami berdua. Sedang malam perlahan merangkak menuju larutnya. Semula akan kucoba merangkai tali persahabatan tulus padanya. Tapi aku urung. Melihat kondisi yang melilit dirinya terlihat trauma masih bergelayut disana. Akhirnya aku coba juga.
“Dinar, maukah kamu menjalin sahabat denganku?” tanyaku disela-sela kebekuan malam.
“Maksudmu?” ia kaget mendengar ucapku.
“Bersahabat serupa kawan lama, karena sinetron yang kau sutradarai persis sama apa yang pernah aku alami. Kita bernasib serupa.” kataku dengan nada lirih.
“Peristiwanya hampir sama tak ada bedanya, kapal kayu yang ditumpangi kekasihmu karam diselat Selayar sini, sehabis dihempas badai topan, sedang kekasihku Andi Pasinringi Bombang nahkoda kapal KM. Antah Brantah, setahun lalu, tewas dalam kecelakaan dalam perjalanannya menuju Surabaya. Juga kapalnya karam dihantam angin badai didekat pulau Masalembo.
Hingga kini, kapal yang naas itu belum ditemukan, karena gelombang besar sering terjadi disekitar pulau itu, membuat upaya pencarian selalu mengalami kegagalan.
Entah, masih hidup atau telah tiada,......... Hilang bagai ditelan bumi,............” begitu kisahku kuakhiri, sambil terisak menahan haru.
Dinar mengangguk lemah. Sebuah anggukan berat dipaksakan. Ia menerima harapku, ingin bersahabat, tapi hanya sebatas pertemanan biasa saja, teman untuk curhat. Tak lebih dari itu. Bukan teman mesra, karena ia takut akan kehilangan untuk kedua kalinya. Sementara malam beranjak perlahan menggamit larutnya.
“Sudah terlalu larut malam Naela, ayo, nanti aku antar kamu pulang kerumahmu, besok sore kita ketemu kembali ditempat ini.” begitu ujarnya padaku, kemudian kami beranjak pergi meninggalkan dermaga pantai Merpati. Pulang kerumah dengan hati yang lara tersayat pilu. Serupa dua luka sayatan yang sama dari sebuah tirai yang terkuak.(*)

Makassar, 21 September 2009

Harian Radar Bulukumba, 18 November 2009
Mingguan Inti Berita, 31 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar