“Cerpen “
Oleh : Hasbullah Said.-
BETAPA aku merindukanmu Indri, seperti rindunya senja yang selalu datang hendak membelai tirai malam. Tak pernah letih mengetuk pintu hatimu yang begitu turkunci rapat. Aku tahu bahwa kamu berada disebuah pulau nun jauh disana, tepatnya pulau kecil Ternate. Dibelahan bumi jauh dari sini, kotaku Metro Makassar yang penuh kesibukan luar biasa, bagai kota tak pernah tidur mengejar waktu hanya pemenuhan kebutuhan hidup semata.
Apakah kamu sudah melupakanku Indri? Padahal kamu telah pernah berjanji akan hidup semati bersamaku. Walau kamu katakan itu hanya lewat sebuah HP mungilmu. Itupun hanya sebuah pesan singkat, atau SMS kamu kirimkan padaku.
Aku bertanya demikian karena akhir-akhir ini ada keraguan bergelayut selalu dihatiku. Betapa tidak, SMS yang selalu meriuhi keseharianku kini tak lagi terdengar ditelingaku yang peka. Itu menimbulkan sebuah tanda tanya besar bagiku. Ada apa adik, Indri?
Dikebisuan sepi dalam kamarku yang sempit ini, Indri, tidak kutemukan kesan yang istimewa bagiku. Kecuali hayalan hampa selalu hadir dalam benakku, yaitu kerinduan. Rindu dengan kata-kata asmara yang menghiasi selalu dilayar monitor HP-ku. Rindu ingin bertemu denganmu, itu mungkin hanya sebatas angan belaka yang sulit terwujud bagiku.
Mampukah aku menemuimu dinegeri yang sejauh itu? Kensekwensinya tentu tak lepas dari biaya yang begitu banyak harus aku siapkan. Jujur aku katakan, aku tak mampu. Terpaksa kerinduanku ini terendap rapat kusimpan dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Jarak Makassar dengan Ternate begitu sangat jauh.
Betapa tidak, selama kurun waktu setahun lebih kita menjalin hubungan asmara, selama itu pula kita tidak pernah bertemu muka. Dan kini, sudah hampir sebulan SMS darimu tidak pernah lagi nongol di HP-ku. Padahal sebelumnya deringan ringtone HP milikku setiap detik waktu meriuhi rentang hari-hariku membuat aku selalu sumringah menatap masa depan yang begitu indah terasa.
Hingga kini, timbul selalu tanda tanya dalam benakku yang tak berkesudahan. SMS yang kamu kirimkan kepadaku, selalu lahir sebuah apriori yang mencurigakan, boleh jadi semua itu dilakukan orang iseng yang tidak bertanggung jawab. Karena selama ini kita berhubungan hanya lewat SMS. Kucoba meneleponmu, namun selalu gagal. Engkau tak mengangkatnya. Hanya ringtone sempat kutangkap dari balik HP-ku, yaitu NSP tembang cantik dari Rossa sangat lembut mendayu-dayu di-pendengaranku. Sesudahnya, kembali terputus. Itu kulakukan berulangkali. Namun hasilnya nihil.
Akhirnya kusimpulkan, mungkin sinyal susah didapatkan disebuah daerah jauh terpencil seperti pulau Ternate atau mungkin penyebab lain. Aku ingin sekali mendengar suaramu yang telah kubayangkan kamu seorang gadis cerdas lagi lincah. Itu dapat kumaknai dari kata-kata pesan singkatmu lewat HP-ku.
Hal tersebut pernah kuutarakan lewat pesan singkatku dan kamu jawab, bahwa SMS lebih aman lagi cepat dan pula menghemat biaya. Akhirnya, lahirlah sebuah komitmen saling mempercayai. Itu kita ikrarkan bersama disuatu senja yang teduh seusai gerimis.
Awal perkenalan kita cukup sederhana. Hanya karena ketertarikanmu pada tulisanku yang sering menghiasi koran yang terbit di kotamu, Ternate. Kamu kirim SMS padaku ingin kenal denganku. Saat itu pula segera kubalas, terima kasih atas segala perhatianmu padaku, kusambut uluran tanganmu dengan setulus hatiku penuh kesucian. Begitu kataku. Mungkin Indri masih ingat khan?
Memang aku sadar, bahwa hubungan cinta jarak jauh seperti ini jarang terjadi, bahkan tidak pernah ada. Memang aneh, tapi nyata. Bercinta dalam angan adalah suatu beban lahir bathin yang amat menyiksa. Mungkin ini adalah sebuah percintaan semu. Atau mungkin ini adalah sebuah kegilaan. Kalau bukan sebuah ilusi. Tentu apa yang aku rasakan, adik Indripun sama sepertiku. Tapi apa yang mau dikata. Telanjur kita saling menyinta.
Walau dalam keyakinan kita masing-masing telah tertanam kokoh.Yaitu saling percaya. Sesuai ikrar diawal kita berkenalan. Tak peduli resiko yang timbul dikemudian hari. Bila suatu saat kita bertemu nanti. Apakah kita siap menerima kenyataan apa adanya. Semisal engkau orang cacat jasmani ataupun sebaliknya aku yang mengalami demikian. Sebuah teka-teki yang tak terjawab. Tapi itu tak pernah terlintas sedikitpun dipikiran kita masing-masing.
Beberapa waktu sesudahnya, kau kenalkan padaku seorang cewek bernama Erna. Teman karib sekelasmu di SMU Neg.2 Ternate. Kau katakan satu-satunya sahabatmu yang sangat kamu percayai tempat saling berbagi rasa, suka dan duka, curhat berbagai masaalah termasuk rahasia yang amat pribadi. Diapun sangat senang membaca tulisan fiksi termasuk cerpen yang aku tulis. Akhirnya, akupun akrab dengannya. Namun dia bukan teman mesra sama sepertimu.
Dia bercerita banyak tentangmu, kebaikan hatimu, kutulusan hatimu, kejujuranmu, bahkan kecantikanmu menjadi bunga-bunga sekolah SMU Neg.2 Ternate, dikejar-kejar oleh teman-teman pria sekolahmu dan banyak lagi cerita tentangmu. Seorang sahabat karib yang melebihi dari saudara kandungnya sendiri.
Kamu orang Jawa asal kota Jepara. Kedua orang tuamu pindah ke Ternate bersama Akangmu yaitu saudara laki-lakimu. Alasannya pindah sangat sederhana, hanya karena ingin mendapatkan penghidupan yang lebih layak.
Lima tahun kemudian, ayahmu berserta ibumu kembali ke Jawa karena usaha meubel ukiran kayu Jepara miliknya terus mengalami penuruan omset di-karenakan krisis ekonomi yang menggolobal.
Kamu tinggal berdua Akangmu di Ternate, tidak ikut serta bersama kedua orang tuamu balik ke Jawa, dengan alasan bahwa UAN (Ujian Akhir Nasional) di- sekolahmu tak lama lagi berlangsung. Semua itu kuketahui lewat telepon Erna. Bukan SMS seperti yang sering engkau lakukan.
Suatu tanda tanya besar bagiku. Aku merasa sangat kecewa. Kenapa Erna dapat menelponku lewat HP-nya berlama-lamaan? Mengapa engkau tidak? Padahal biaya pulsa begitu murah bila kita lakukan pembicaraan pada jam-jam tertentu.
Akhirnya, perlahan terkuak juga masalahnya. HP yang kamu pakai selalu, adalah milik Akangmu. Kamu gunakan sembunyi-sembunyi disaat Akangmu keluar rumah lupa membawanya, disaat ia tertidur lelap didalam kamarnya atau sementara berada dalam kamar mandi. Seusai kau gunakan mengirim SMS padaku lalu buru-buru kamu hapus agar tidak terbaca Akangmu.
Engkau tak diperkenangkan memakai HP lagi. Khawatir terulang kembali peristiwa lalumu yang amat memalukan. Sebuah pesan singkat di balik HP-mu terbaca oleh Akangmu. Kamu lupa menghapusnya. Isinya kata-kata yang tidak sepantasnya dibaca oleh seorang gadis remaja. Kamu ditanya oleh Akangmu, SMS siapakah ini? Kamu mengelak. Kamu katakan aku tak tahu, mungkin itu SMS kesasar atau salah sambung. Namun Akangmu tak begitu mudah percaya.
Belakangan dia tahu bahwa SMS yang masuk itu dari pacarmu seorang lelaki yang telah beristri. Akangmu marah besar terhadapmu. Ia merasa dipermalukan. HP milikmu waktu itu langsung dia sita, lalu dijual dengan harga yang sangat murah.
Akhirnya aku malu sendiri. Peristiwa seperti itu terulang kembali. Aku tak tahu peristiwa lalumu yang kelabu. Setiap kukirim SMS padamu selalu kuakhiri dengan kata-kata peluk cium dari kekasihmu. Diash. Hanya demikian, tak lebih dari itu.
Kelengahan bagimu sebagai manusia biasa wajar saja, kamu lupa hapus seusai kau baca. Tanpa sadar bahwa HP yang kamu gunakan itu adalah milik Akangmu. Tentunya setiap SMS yang masuk pasti ia akan baca. Kontan saja ia naik pitam, membuat emosinya lahir memuncak lepas kontrol. Akhirnya gelap mata. Kamu dipukuli bertubi-tubi menyisakan luka lebam memar disekujur tubuhmu.
Dia bertindak sekasar itu karena trauma pada masa lalumu. Walaupun ia sangat menyesal setelah belakangan Akangmu tahu bahwa SMS yang masuk itu adalah dari aku, Diash. Seorang penulis yang ia puja dan sanjung selama ini. Akangmu juga seorang penggemar, suka baca cerita pendek. Termasuk cerpen yang aku tulis dia pernah membacanya.Tapi apa lacur, nasi sudah jadi bubur..............
Akibat luka serius yang kau derita, terpaksa engkau dilarikan kerumah sakit dan dirawat beberapa hari lamanya. Aku sangat menyesal atas kejadian ini. Baru aku sadar, SMS tak lagi kamu kirimkan kepadaku hanya karena membawa luka lahir dan bathin.
Mohon maaf dik Indri..............! Kamu korban akibat kelancangan tanganku. Lukamu adalah lukaku. Luka dari seorang penulis yang berharap selalu,........Luka itu kubawa berlari. Bagai luka bakar yang melepuh di sekujur permukaan jantungku. Amat perih terasa. Sangat parah.
Dokter tak mampu untuk menyembuhkannya. Obatnya hanya satu. Penyebab kebakaran harus diusut tuntas. Karena api yang membakar jantung hatiku adalah api asmara, ..............api cinta. Begitu diagnosa dokter.
Hanya doaku, semoga kamu dan aku lekas sembuh. Entah, berapa banyak sudah untaian doa kukirim dari jauh hanya untukmu seorang.
Kumampu hanya itu. Selebihnya hanyalah kenangan buram buat kita berdua, terlukis abadi dalam benakku. Nostalgia biru untuk selama-lamanya. Kenangan pahit yang tak akan pernah terlupakan selama dalam perjalanan hidupku.(*)
Makassar, 20 Januari 2009
Harian Radar Bulukumba, 13 April 2009
Mingguan Inti Berita, 24 Agustus 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar