Oleh : Hasbullah Said.-
KERINDUANKU kini padamu Najma, tak dapat kubendung lagi. Sepertinya senja hari datang selalu hendak mengoyak tirai malam. Entah, aku tak tahu kenapa demikian. Tak pernah luput mengetuk pintu hatimu. Kenapa kamu tak juga me-nengokku. Menemuiku. Padahal aku sudah setengah mati menantimu. Mencarimu. Namun aku tak tahu, dimana kau kini berada. Apakah kamu telah melupakanku? Lupa akan janjimu padaku?
Didalam kamarku yang sempit lagi pengab ini, tak ada kesan istimewa yang hadir dalam diriku. Kecuali masa-masa silam disaat kita masih duduk dibangku SMP dulu, kini datang selalu menyergap hayalku yang berkepanjangan tak pernah usai.
Saat itu, kau murid baru di sekolahku pindahan dari Makassar. Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kepindahanmu itu kesini kudengar kabar dari tetanggamu bahwa kamu pindah sekolah hanya untuk menemani nenekmu yang tinggal sendirian, setelah kematian kakekmu beberapa bulan lalu. Karena telah uzur, dan tak ada lagi keluarganya yang dapat diharapkan untuk merawatnya, maka kamu sebagai cucunya yang tertua dipanggil untuk menemaninya.
Kau sama saja dengan teman-teman kelasku yang lainnya. Ya, tak ada yang istimewa. Tubuhmu mungil semampai, berkulit hitam manis dengan sebuah tahi lalat bertengger tepat dibagian atas bibirmu yang mungil.Cara berpakaianmu begitu sangat praktis dan rapi. Itu yang membedakan dengan cewek teman-teman kelasku yang lain. Maklum, karena kau itu anak kota. Lahir dan dibesarkan dikota Makassar.
Teman-teman kelasku perhatiannya selalu tertuju padamu. Memujimu, me-ngatakan pantas karena kamu anak kota. Belakangan baru aku sadari, kalau ada yang menarik darimu yaitu, kamu selalu memperhatikanku, menungguku bareng bersama pulang kerumah seusai sekolah. Menjemput aku setiap pagi bila hendak kesekolah, karena kita tinggal tidak terlalu berjauhan. Kita hanya berjalan kaki pulang pergi kesekolah karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah tempat tinggal kita masing-masing. Akhirnya, persahabatan kita begitu sangat akrab, layaknya seperti kakak beradik saja.
Hari-hari begitu berlalu sangat indah terasa. Bahkan kamu sangat sayang padaku. Mungkin karena kau tak punya saudara laki-laki, atau entah, aku tak tahu. Yang pasti, aku seperti kakakmu saja. Sungguh, aku sangat bersyukur bisa memiliki teman sama sepertimu.
Begitu banyak keidahan dan keceriaan yang mewarnai disaat kita sama-sama sekolah di SMP. Menikmati aroma hujan dan wangi rumput basah ketika kita kehujanan sepulang dari sekolah. Daun pisang pengganti payung tak mampu menudungi tubuh kita dari guyuran hujan lebat, sehingga kita basah kuyub setiba dirumah. Keesokannya kamu tak masuk sekolah karena kamu terserang penyakit flu berat. Aku merasa sangat kehilangan bila pulang pergi kesekolah tanpamu.
Mengisi waktu senja disekitar pantai yang terjal tak jauh dari rumah kita, dari kaki bukit hingga kepuncaknya banyak pohon nyiur tumbuh berderet panjang. Disana kita kerap menyaksikan bola emas berwarna merah saga yang perlahan tapi pasti rebah dibalik puncak pohon nyiur. Atau menghitung perahu nelayan yang melintas seolah berlomba menuju laut mencari ikan.
Sesekali kita menapaki jalan setapak sempit dikaki bukit menuju puncaknya. Kadang langkah kita terhenti sesaat, menatap kearah laut tengah kebiruan perlahan kelam menjemput malam. Sepulang, kita singgah dikebun tebu Uwak Nongka. Seorang kakek tua yang bijak. Ia menyapa kami dengan santun, mempersilahkan duduk diatas balai bambu miliknya. Kemudian menawarkan kepada kami, sebatang tebu yang ditebangnya lalu dia berikan kepada kami.
“Ini tebunya manis nak.” katanya sambil menyerahkan kepadaku. Kupotong dua, lalu kuberikan kepada Najma potongannya.
“Sangat manis memang Uwak.” kataku memuji seusai mencicipinya. Sebagai rasa terima kasihku, lima lembar uang seribuan kusodorkan kepadanya, disaat kami hendak pulang. Namun dia menolaknya.
“Tak usah, nak.”
“Kenapa mesti dibayar, ikhlas hati Uwak berikan.” begitu tolaknya.
“Kalau begitu, terima kasih banyak Uwak.” kataku sambil kami beranjak pergi meninggalkannya menuju rumah kami masing-masing. Saat itu, lenyaplah sudah pandangan laut yang kebiruan itu dari mata kami. Yang nampak sesudahnya, hanyalah pucuk-pucuk pohon nyiur yang menjulang tinggi menantang langit.
Kenangan masa lalu itu tak pernah pupus dalam ingatanku. Najma,..... sudah beberapa kali aku usahakan untuk menghapus kenangan itu dalam menitor hayalku, namun aku tak mampu. Bahkan setiap kali itu kulakukan, kerinduaku padamu se-makin menjadi-jadi.
Waktu terus berganti. Berjalan tanpa henti. Kisah persahabatan kita semakin akrab dan manis. Terlebih disaat kita memasuki jenjang tingkat SMA. Aku semakin dekat denganmu. Nyaris kita tidak pernah pisah. Dimana ada kamu disitu juga aku pasti ada. Beberapa teman kita merasa sangat cemburu melihat kedekatan kita berdua. Tapi kita tak hirau. Perduli setan dengan mereka. Anjing menggonggong kafila berlalu.
Sampai pada suatu ketika, nenekmu yang kau sangat sayangi itu dipanggil menghadap lebih duluan oleh Yang Maha Kuasa. Akibat penyakit lever yang di-deritanya sekian lama. Kau terisak menahan haru atas kepergian nenekmu itu.
Akhirnya, kau kembali ke Makassar berkumpul bersama kedua orang tuamu beserta adik-adikmu. Beberapa bulan kemudian, kau menyuratiku memberi kabar. Kabar yang sangat menyakitkanku. Papamu dipindah tugaskan ke Surabaya sebagai petugas Bea & Cukai Kementerian Keuangan. Dan kamupun ikut serta bersama adik-adikmu. Kau pergi meninggalkan segalanya. Termasuk diriku.
Aku telah kehilangan, Najma,........... Aku sangat sedih mendengar kabar itu. Meski dalam suratmu itu kau berjanji padaku pada suatu waktu kelak kau akan datang menengokku. Sekali gus bernostalgia masa-masa lalu kita yang indah ketika kita masih sekolah di SMP. Tapi aku masih juga sedih. Ada air bening mengambang perlahan dipelupuk mataku tak dapat kucegah. Aku benar-benar tak menyangka akan kehilangan kamu. Akhirnya kau pergi dari desa kita yang punya kisah manis tersendiri bagi kita berdua.
Hari-hari kulewati tanpamu tak lagi punya arti apa-apa bagiku. Dan memang disanalah awalnya. Awal dari penantianku yang cukup lama. Juga duka yang men-jamahku selalu. Terakhir kau menyuratiku mengabarkan bahwa kamu telah kawin dengan seorang lelaki yang tak lain adalah mantan guru matematika-mu disalah satu SMA Negeri di kota Makassar. Walau kau katakan dalam suratmu itu, kawin hanya karena terpaksa mengikuti kemauan kedua orang tuamu, karena utang budi terhadap kedua orang tua suamimu sebelum kau nikah.
Sepuluh tahun lebih sudah berlalu, hingga kini aku belum bisa membenahi kehilanganku atas dirimu. Rupanya ujian dan cobaan dari Yang Maha Kuasa datang bertubu-tubi menimpaku. Papaku terampas dariku. Sebuah kecelakaan yang sangat tragis meregut nyawanya. Dia hilang ditelan ombak ganas ketika dia sedang menangkap ikan dilaut. Aku menangis sesunggukan, sangat mengiriskanku. Hingga kini jasadnya belum ditemukan, entah dia masih hidup atau telah tiada. Tipis kemungkinannya untuk hidup, kecuali mendapat mukjizat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ibu berupaya menegarkanku. Memberiku semangat dan kekuatan untuk bisa menjalani hari esok tanpa ayah.
Tapi tak semudah itu, Najma.......! Kepergian ayahku ibarat aku kehilangan arah. Tak kudapati lagi nasehat-nasehat darinya yang menyejukkan hatiku. Semuanya telah hilang, entah dosa apa diriku ini sehingga hidup begitu kejam menyambutku. Mungkin tak pernah kau sangka akan semua ini. Tapi kenyatasannya itulah yang terjadi pada diriku. Sahabatmu dulu disaat-saat remaja, teman sekolahmu di SMP kini telah terkulai layu.
Hidup ini memang penuh misteri. Esok hari atau lusa tidak pernah kita ba-yangkan apa yang akan terjadi. Rahasia itu semua ditangan Tuhan. Bagi-Nya semua itu tidak ada yang mustahil terjadi. Begitu pula dengan suratan takdir yang telah di-berikan Tuhan padaku.
Aku kini terkulai lemas diatas perbaringanku disebuah rumah sakit. Dokter Edy yang menanganiku, memvonis tumor ganas menyerang jantungku sangat kejam tanpa ampun.
Aku tahu, tak seorangpun yang bisa memastikan batas usia manusia. Dokter hanya mendiagnosa, namun Tuhan semua yang menentukannya. Aku tahu itu. Tapi, Najma, tanda-tanda ajal kematianku itu telah berkali-kali mendatangiku. Almarhum ayahku yang telah lama meninggal hadir selalu dalam tidurku, mengajak aku terbang jauh bersamanya, menuju sebuah taman yang sangat indah dilangit. Tapi aku tak mau. Aku tolak ikut bersama ayah. Kukatakan, aku sedang menunggu seseorang. Aku memohon diberi sepenggal waktu. Akhirnya aku mengalah sendiri, lelah dalam bermohon. Sementara tubuhku semakin lemas. Aku nyaris tak punya kekuatan lagi. Kecuali jalan yang membentang telah terbayang dipelupuk mataku mendekati batas usiaku.
Dimana kamu sekarang,...... Najma? Mengapa tak juga kau menengokku, se-mentara kini aku merangkak tersengal-sengal menantang ajal kematianku, hanya se-penggal keinginan untuk bertemu denganmu, meski hanya untuk terakhir kalinya,.......
Bilamana kebetulan kamu membacanya tulisanku ini, namun tak sempat jua kau datang menjengukku, sementara aku telah berangkat duluan menghadap pada-Nya, maka aku berharap, agar kau sudi mengirimkan surah al-Fatihah padaku. Agar aku tenang dalam tidur panjangku disana. Itu sudah cukup. Harapku, tak lebih dari itu.(*)
Makassar, 22 Agustus 2010
Mingguan Inti Berita, 12 September 2010
Harian Radar Bulukumba, 24 Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar