Oleh : Hasbullah Said.-
ISYARAT pesan singkat (SMS) yang masuk dari balik Hp-ku, terdengar riuh dari dalam saku pantalon yang aku kenakan. Disaat aku duduk diatas teras rumahku dikeheningan suatu senja yang basah. Segera kubuka lalu kubaca.
“Aku sangat tertarik dan merasa kagum membaca cerpennya. Kehilangan, yang dimuat di Mingguan Inti Berita, pagi kemarin. Sedih, haru dan jalan ceritanya persis sama seperti apa yang pernah aku alami.”
Demikian pesan singkatnya yang aku terima tanpa dibubuhi nama pe-ngirimnya. Akhirnya, pesan singkatnya itu aku balas segera.
“Kalau boleh aku tahu, ini dari siapa?” tanyaku.
Sesaat kemudian kembali ia menjawabnya.
“Aku Wulandari, pengagum dari tulisan anda, bertempat tinggal di batas kota. Boleh nggak kita kenalan?”
Sontak aku kaget. Aku penasaran dibuatnya. Aku tak tahu dari mana ia dapatkan nomor Hp-ku. Mungkin dari redaktur surat kabar dimana biasanya tulisanku dimuat. Aku tak perlu cari tahu dari mana ia dapatkan.
Sebagai seorang penulis yang bijak tentu aku tidak mau menyepelekan atau kecewakan harapnya sebagai penggemarku. Kembali kujawab pesan singkatnya.
“Terima kasih banyak dik Wulan, dengan tangan terbuka aku sambut uluran tangan adik dengan setulus hatiku.”
Begitu awal perkenalanku dengannya. Aku bayangkan, dia akan melompat ke-girangan menerima sambutan dariku. Kalau tidak malu, tentu dia akan ekspresikan kegembiraannya itu dengan menyampaikan kepada semua teman-teman dekatnya. Terutama teman-teman sekantornya tempat dimana ia bekerja sebagai Staf Tata Usaha disebuah Kantor Camat.
Akhirnya, berlanjut dengan saling telepon-teleponan lewat Hp. kami masing-masing. Tak hirau dengan berapa biaya yang kami keluarkan untuk pembeli pulsa.
Di suatu pagi yang cerah, terdengar riuh ringtone panggilan masuk dari balik Hp-ku. Ia mendahului menelponku. Aku angkat segera.
“Assalamu Alaikum.” begitu ucapnya memberi salam.
“Waalaikum Mussalam Wbr.” balasku.
“Maaf, aku mengganggu kesibukan kakak. Aku Wulan.”
“Oh, Wulan. Nggak apa-apa. Gimana, apa kabar Wul?”
“Baik-baik aja kak. Wah,....cerpennya K e h i l a n g a n yang dimuat di- Mingguan Inti Berita minggu lalu, begitu sangat menarik dan menggugah perasanku setelah aku membacanya. ” balasnya dengan nada keriangan.
“Menarik gimana?” tanyaku berpura-pura memancing dia.
“Ya, banyak hal.”
“Kalau boleh aku tahu, hal yang bagaimana?” desakku lagi. Wulan sesaat diam tak menyahuti tanyaku. Dari balik Hp. milikku kudengar sebuah helaan napas panjang. Nadanya seperti sesak berat ia tarik perlahan.
“Kisahnya persis sama seperti apa yang pernah aku alami.” begitu jawabnya dengan nada terdengar lirih. Sejenak aku diam tak menyahuti pembicaraannya. Aku penasaran berat dibuatnya.
“Jadi kamu itu juga ada kehilangan.........?” tanyaku.
“Ya,.............!” sahutnya pendek.
“Kehilangan pacar tentu ni yee.......?” aku bercanda menggodanya. Hubungan pembicaraan kami tiba-tiba terputus. Aku tak tahu kenapa demikian. Mungkin karena sinyal tiba-tiba menghilang, atau baterey Hp-nya law-batt. Aku tak lagi lanjutkan pembicaraanku dengannya.
Beberapa hari kemudian, ia menelponku lagi bercerita panjang lebar tentang dirinya. Tentang kehilangannya. Hilangnya orang yang amat dia kasihi. Ayah dari buah hatinya semata wayang yang masih balita, malaikat kecilnya sangat membutuhkan belaian kasih sayang dari seorang ayah.
Kapal yang ditumpanginya karam dihantam badai topan ditengah laut, ketika berlayar dari Surabaya menuju Kepulauan Riau. Hingga kini jasadnya belum di-temukan, entah, masih hidup atau telah tiada.......... Tipis kemungkinannya untuk hidup, kecuali mendapat mukjizat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena kejadian musibah itu telah setahun lewat, kini belum juga ada kabar beritanya. Ayahnyapun sudah lama meninggal akibat penyakit kangker paru-paru yang menggerogotinya.
Kini tinggal ibunya yang masih hidup membutuhkan perawatan karena sering sakit-sakitan. Begitu kisahnya padaku. Dia akhiri kisahnya dengan isakan tangis sesunggukan terdengar dibalik Hp-ku. Hatiku rapuh. Goyah. Rupanya aku seorang lelaki yang tak kuasa menerima isak tangis dari seorang perempuan lemah.
Ada butiran-butiran air bening mengambang perlahan di pelupuk mataku tanpa dapat kucegah. Terasa perih disana.
“Aku harap, adik Wulan harus bersabar menerima cobaan ini, mudah-mudahan saja ada hikmah dibaliknya.” kataku menegarkan hatinya.
“Terima kasih kak.” balasnya dengan isakan tangis yang memilukan hati..
Baru aku sadar, bahwa Wulan adalah seorang janda muda ditinggal mati oleh suaminya akibat musibah karamnya kapal yang ditumpangi ketika dia ke Kepulauan Riau.
Hari-hari berikutnya. Tak ada waktu tanpa terdengar dering Hp.Wulan me-riuhi keseharianku. Rasa sepinya terasa terusir jauh sejak dia mengenalku. Begitu ia jujur mengatakan kepadaku. Akhirnya, akupun merasa ada sesuatu yang lain, lahir semacam debar-debar aneh dihatiku bila terdengar dering ringtone Hp. Wulan meriuhi Hp-ku. Suaranya begitu lembut terasa dipendengaranku mana kala ia memanggil kakak kepadaku. Sejuk terasa merasuk ke relung kalbuku, bagai sejuknya senja hari ketika seusai gerimis. Rupanya aku telah terjerat dalam perangkap lingkar cinta semu...........
“Sejak aku kenal kakak Ryan, aku merasa tak kehilangan lagi. Aku tak kesunyian lagi. Permataku yang hilang kini telah kutemukan kembali.” katanya dengan nada lembut dipendengaranku. Kumaknai kata-katanya itu, ia menempatkan dirinya bukan lagi sebagai seorang fans atau penggemarku, akan tetapi perlahan berobah menjadikan aku sebagai seorang kekasih. Benarkah.......? Suatu tanda tanya lahir dibenakku tak akan pernah terjawab.
“Tapi adik Wulan harus sadar, bahwa kita kenalan hanya lewat udara atau On celluler.” kataku mengingatkan dia.
“Soal cinta tak mengenal di udara atau angkasa maupun didarat. Cinta itu buta. Tak sedikit jumlahnya orang ketemu jodoh hanya lewat dunia maya termasuk On line celluler. Dan berakhir pula dengan kebahagiaan seusai nikah.” katanya dengan nada mantap memberiku alasan. Aku diam terpaku bisu diatas kursi yang kududuki mendengar pernyataannya. Aku bingung. Kelabakan dibuatnya. Jantungku berpacu kencang tak karuan.
“Tapi dik Wulan harus sadar, bahwa tak sedikit korbannya termakan akibat On line chatting lewat internet atau celluler. Internet atau sering disebut dunia maya, tak ubahnya dunia mimpi penuh kepura-puraan dan kebohongan.”
“Benar tidaknya tapi aku yakin, kak Ryan adalah seorang seniman atau penulis yang berhati mulia dan jujur, serta penyayang kepada sesamanya termasuk aku. Dan kakak pasti tidak akan mengecewakanku” balasnya meyakinkan aku.
Angin siang berhembus perlahan dari balik celah pohon harumanis tumbah rindang dihalaman depan rumah. Begitu terasa sejuk mengelus tubuhku. Aku bangkit dari atas kursi plastik yang kududuki, kemudian berjalan masuk kekamarku. Aku berbaring diatas tempat tidurku sambil mengenang dia, Wulan. Perasaanku begitu kalut memikirkan akan kata-katanya. Gelisah resah diatas perbaringanku. Tak tahu apa yang hendak aku lakukan.
Aku dalam posisi serba salah. Telanjur aku memberi harapan kepadanya. Harapan cinta dan kerinduan. .........
Sesaat kemudian, dari balik Hp-ku terdengar nada ringtone bising meriuhi ke-sunyianku dalam kamarku yang hangat.
“Halo selamat sore kak Ryan. Lagi ngapain disitu. Sedang berinspirasi mungkin, ya?” katanya membuka pembicaraannya.
“Nggak, sedang istirahat.” balasku.
“Tolong tuliskan aku cerpen, Permataku yang hilang itu telah kutemukan kembali.”
“Nantilah!” jawabku pendek.
Aku menghargai harapnya. Punya hak azasi untuk dicinta dan mencintai. Akan tetapi telah berulang kali aku ingatkan padanya, bahwa kita bercinta hanya lewat udara sama seperti bercinta dalam angan. Tapi dia menolaknya. Tak menerima argumenku.
Harapannya tetap berprinsip, bahwa cinta lewat Hp. bukanlah suatu halangan atau rintangan. Tak sedikit ketemu jodoh dan berakhir dipelaminan dengan meraih kebahagiaan. Kukatakan bahwa, bagaimana sekiranya, disuatu ketika kita bertemu sebelum nikah, dan diantara kita ada yang mengalami suatu kelainan semisal cacat jasmani pramanent. Atau mungkin si lelaki itu telah punya istri. Lagi pula telah punya anak dua. Ia jawab dengan sejujurnya mengatakan bahwa, apapun rezikonya aku akan terima apa adanya. Sungguh. Aku berani sumpah..............!
Hari jelang malam. Senja telah turun melahirkan bayang-bayang merah menerpa diatas pucuk-pucuk pohon harumanis. Aku belum berani mengambil keputusan ya, atau tidak. Tapi ia mendesakku selalu. Meminta jawaban tegas dariku.
“Apapun rezikonya, aku akan terima apa adanya apabila disuatu waktu terdapat sesuatu yang tidak semestinya. Aku butuh seorang lelaki yang dapat men-dampingiku, melindungiku serta menyayangiku setulus hati, agar aku terhindar dari gempuran cemoh serta gossip yang menyakitkanku dari orang-orang yang tak ber-tanggung jawab, karena aku penyandang status janda,......” jawabnya dengan nada lirih, disertai isak tangis bergelombang bagai gelombang laut disana. Tanpa basi-basi, segera aku kirim SMS dengan seuntai kata dibalik layar monitor Hp-nya.
Permatamu yang hilang itu raib sudah, aku harap lupakan saja masa lalumu bersamanya, dan akulah penggantinya permatamu yang hilang itu. Hatinya lega berbunga-bunga menerima jawabku.
Terima kasih kak, kapankah masa bahagiaku itu tiba? begitu SMS yang ia kirimkan kepadaku tertulis dibalik layar monitor Hp-ku, samar-samar hampir tak terbaca olehku, karena rasa ngantuk telah datang menyerangku tanpa ampun tak tertahankan.
Selamat tidur sayangku,........semoga adik Wulan dibuai mimpi indah malam ini. Begitu desisku perlahan, sembari kubaringkan tubuhku diatas tempat tidurku, dan
tak lama kemudian, akhirmya aku telah tertidur pulas hingga keesokan paginya.(*)
Makassar, 08 Oktober 2010
Mingguan Inti Berita, 10 Oktober 2010
Harian Radar Bulukumba, 12 Januari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar